Jumat, 26 Oktober 2018

PERKEMBANGAN POLITIK DEMOKRASI TERPIMPIN

A.      MATERI PEMBELAJARAN
Assalammualaikum wr. wb. Apa kabar anak anakku sekalian?
Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan semangat untuk selalu mencari ilmu pengetahuan guna masa depan yang gemilang. Perhatikan gambar di bawah ini :







Gambar diatas menunjukkan suasana pembacaan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Apa yang menyebabkan Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959? Apa hubungan Dekrit Presiden tersebut dengan konsep Demokrasi Terpimpin? Bagaimana tanggapan rakyat terhadap Dekrit presiden itu? Untuk mengetahui jawabannya, perhatikan uraian materi berikut ini!


1.      Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Oke lanjut kita akan bahas tentang era demokrasi terpimpin di Indonesia. Pergantian kabinet dalam waktu singkat menjadikan keadaan politik menjadi tidak stabil dan membahayakan bagi kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, muncul gagasan melaksanakan model pemerintahan Demokrasi Terpimpin dengan cara kembali kepada UUD 1945. Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Adapun isi dari Dekrit Presiden tersebut adalah dibubarkannya Konstituante, berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950; dibentuknya MPRS dan DPAS.
Berlakunya kembali UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 diterima baik oleh rakyat Indonesia, bahkan DPR menyatakan diri bersedia untuk bekerja atas dasar UUD 1945. Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, berakhirlah Demokrasi Liberal dan digantikan dengan Demokrasi Terpimpin. Demikian pula mulai saat itu, sistem Kabinet Parlementer diganti menjadi Kabinet Presidensial. Pemerintahan Demokrasi Terpimpin bertujuan untuk menata kembali kehidupan politik dan pemerintahan yang tidak stabil pada masa Demokrasi Liberal berdasarkan UUD 1945
Masa Demokrasi Terpimpin adalah masa ketika Indonesia menerapkan suatu sistem pemerintahan dengan seluruh keputusan pemerintah berpusat pada kepala negara. Pada saat itu, jabatan kepala negara dijabat oleh Presiden Soekarno.
2.      Penyimpangan terhadap UUD 1945
Dalam perkembangannya, pada masa Demokrasi Terpimpin, justru terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap UUD 1945 dan pemerintah cenderung menjadi sentralistik karena terpusat pada Presiden saja. Kondisi tersebut menjadikan posisi Presiden sangat kuat dan berkuasa. Bentuk-bentuk pelanggaran terhadap UUD 1945 pada masa Demokrasi Terpimpin di antaranya adalah sebagai berikut.
1)      Prosedur pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) karena anggota MPRS diangkat oleh Presiden, seharusnya dipilih melalui pemilu.
2)      Prosedur pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS), karena lembaga ini anggotanya ditunjuk oleh Presiden dan diketuai oleh Presiden. Padahal, tugas dari DPAS adalah memberi jawaban atas pertanyaan presiden dan memberi usulan kepada pemerintah.
3)      Prosedur pembentukan Dewan Permusyawaratan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), karena anggota DPRGR ditunjuk oleh Presiden dan DPR hasil pemilu 1955 justru dibubarkan oleh Presiden. Padahal, kedudukan DPR dan presiden adalah seimbang. Presiden tidak dapat membubarkan DPR, sebaliknya DPR tidak dapat memberhentikan Presiden.
4)      Penetapan manifesto politik Republik Indonesia sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Seharusnya GBHN disusun dan ditetapkan oleh MPR.
5)      Pengangkatan presiden seumur hidup.

3.      Kekuatan Politik Nasional
Pada masa Demokrasi Terpimpin kekuatan politik terpusat antara tiga kekuatan politik, yaitu: Presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan TNI AD. Berbeda dengan masa sebelumnya, pada masa Demokrasi terpimpin partai politik tidak mempunyai peran besar dalam politik nasional. Partai yang ada ditekan agar menyokong dan memberikan dukungan terhadap gagasan presiden. Partai politik yang bertolak belakang dengan pemerintah di bubarkan dengan paksa. Dengan demikian partai politik itu tidak dapat lagi menyuarakan gagasan dan keinginan kelompok yang diwakilinya. Sampai tahun 1961, hanya ada 10 partai politik yang diakui oleh pemerintah, yaitu: PNI, NU, PKI, Partai Katolik, Partai Indonesia, Partai Murba, PSII, IPKI, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Persatuan Tarbiyah Islam (Perti).
 








Gambar. Presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan TNI AD
4.      Politik Luar Negeri
Penyimpangan politik luar negeri bebas aktif. Penyimpangan ini dilakukan dengan melaksanakan politik poros yaitu membentuk Poros Jakarta-Peking, Jakarta-Phnom-Phen-Hanoi-Peking-Pyongyang. Ini artinya Indonesia lebih memihak blok komunis padahal Indonesia masuk negara anggota non blok.








Poros Jakarta-Peking yang menimbulkan kegelisahan rakyat
a.    Oldefo dan Nefo
Oldefo (The Old Established Forces) adalah sebutan untuk negara barat yang sudah mapan ekonominya, khususnya negara kapiltalis. Nefo (The New Emerging Forces) adalah sebutan untuk negara-negara baru, khususnya negara sosialis. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia lebih banyak menjalin kerja sama dengan negara Nefo. Hal ini terlihat dengan dibentuknya Poros Jakarta–Peking (Indonesia dan China) dan Poros Jakarta–Phnom Penh–Hanoi–Pyongyang (Indonesia, Kamboja, Vietnam Utara, dan Korea Utara). Terbentuknya poros ini mengakibatkan ruang gerak diplomasi Indonesia di forum internasional menjadi sempit. Indonesia terkesan memihak blok sosial/komunis.
b.   Politik Mercusuar
Politik Mercusuar merupakan politik yang dijalankan oleh Presiden Soekarno dengan anggapan bahwa Indonesia merupakan mercusuar yang menerangi jalan bagi Nefo di seluruh dunia. Untuk mewujudkannya, maka diselenggarakan proyek-proyek besar dan spektakuler yang diharapkan dapat menempatkan Indonesia pada kedudukan yang terkemuka di kalangan Nefo. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar, diantaranya adalah penyelenggaraan Ganefo (Games of the New Emerging Forces), pembangunan kompleks olahraga Senayan, dan pembangunan Monumen Nasional (Monas).







                Gambar Pembukaan Ganefo tahun 1963 di Indonesia
c.    Indonesia dengan Gerakan Nonblok
Dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, muncul gagasan untuk membentuk organisasi yang disebut dengan Gerakan Non-Blok. Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) didirikan untuk menyikapi persaingan antara Blok Barat yang dipiminan Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Sovyet pada awal tahun 1960-an. Persaingan kedua blok memicu terjadinya Perang Dingin (Cold War) yang dapat mengancam perdamaian dunia.
Berdirinya Gerakan Non-Blok diprakarsai oleh PM India Jawaharlal Nehru, PM Ghana Kwame Nkrumah, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden Yugoslavia Jossep Broz Tito. Gerakan Non- Blok (GNB) secara resmi berdiri melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun 1961 di Beograd, Yugoslavia. Adapun tujuan pendirian Gerakan Non- Blok antara lain adalah sebagai berikut.
1)        Menentang imperialisme dan kolonialisme
2)        Menyelesaikan sengketa secara damai.
3)        Mengusahakan pengembangan sosial ekonomi agar tidak dikuasai negara maju.
4)        Membantu perdamaian dunia dan berusaha meredakan ketegangan
Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Munculnya gagasan pembentukan Gerakan Non-Blok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 memperlihatkan besarnya pengaruh Indonesia dalam gerakan tersebut. Indonesia pun terlibat aktif dalam persiapan KTT I Gerakan Nonblok di Beograd Yugoslavia

d.   Konfrontasi dengan Malaysia
Konfrontasi Indonesia terjadi ketika kerajaan Inggris berniat untuk menyatukan daerah jajahannya di asia tenggara untuk membentuk sebuah negara pesemakmuran Inggris dengan nama Malaysia. Daerah yang akan disatukan diantaranya daerah jajahannya di Borneo (Kalimantan) dan semenanjung malaya. Mendengar hal tersebut, Soekarno menentang rencana Inggris tersebut. Soekarno berpendapat bahwa hal itu dapat menambah kontrol inggris di asia tenggara sehingga dapat mengancam kemerdekaan Indonesia. oleh karena itu Malaysia dianggap Soekarno sebagai boneka Inggris.
 



Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia





                
Pada tanggal 16 September 1963 pendirian Federasi Malaysia diproklamirkan. Menghadapi tindakan ini, Indonesia melakukan konfrontasi. Pada tanggal 17 September 1963 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia putus. Selanjtunya pada tanggal 3 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora). Isi Dwikora adalah sebagai berikut.
1)        Perhebat ketahanan revolusi Indonesia
2)        Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, Sabah, dan Brunei untuk memerdekakan diri dan menggagalkan negara boneka Malaysia.
Pada saat Konfrontasi Indonesia-Malaysia sedang berlangsung, Malaysia dicalonkan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Pencalonan ini mendapat reaksi keras dari Presiden Soekarno. Pada tanggal 7 Januari 1965 Malaysia dinyatakan diterima sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, dengan spontan Presiden Soekarno menyatakan Indonesia keluar dari PBB.

e.    Pembebasan Irian Barat
Sesuai isi KMB, Irian Barat akan diserahkan oleh Belanda satu tahun setelah pengakuan kedaulatan RIS. Namun, pada kenyataannya lebih dari satu tahun, Belanda tidak kunjung menyerahkan Irian Barat pada Indonesia. Dalam penyelesaian masalah Irian Barat, pemerintah Indonesia melakukan upaya diplomasi bilateral dengan Belanda. Upaya ini tidak membuahkan hasil. Selanjutnya sejak tahun 1954 setiap tahun persolan Irian Barat berulang-ulang dimasukkan ke dalam acara sidang Majelis Umum PBB, tetapi tidak pernah memperoleh tanggapan positif. Oleh karena berbagai upaya diplomasi tidak berhasil, pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menempuh sikap keras melalui konfrontasi total terhadap Belanda, antara lain sebagai berikut.
1)        Pada tahun 1956, Indonesia secara sepihak membatalkan hasil KMB dan secara otomatis membubarkan Uni Indonesia- Belanda. Melalui UU No. 13 Tahun 1956 tanggal 3 Mei 1956 Indonesia menyatakan bahwa Uni Indonesia–Belanda tidak ada.
2)        Pada 17 Agustus 1960, Indonesia secara sepihak memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda yang diikuti oleh pemecatan seluruh warga negara Belanda yang bekerja di Indonesia. Kemudian pemerintah Indonesia mengusir semua warga negara Belanda yang tinggal di Indonesia dan memanggil pulang duta besar serta para ekspatriat Indonesia yang ada di Belanda.
3)        Pembentukan Provinsi Irian Barat dengan ibu kota di Soasiu (Tidore) untuk menandingi pembentukan negara Papua oleh Belanda.
Puncak konfrontasi Indonesia terhadap Belanda terjadi saat Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Adapun isi Trikora adalah sebagai berikut.
1)        Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial.
2)        Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
3)        Bersiaplah untuk mobilisasi umum
Untuk melaksanakan Trikora, pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/ Pangti ABRI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan Nomor 1 Tahun 1962 untuk membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Antara bulan Maret sampai bulan Agustus 1962 oleh Komando Mandala dilakukan serangkaian operasi-operasi pendaratan melalui laut dan penerjunan dari udara di daerah Irian Barat.
Operasi-operasi infiltrasi tersebut berhasil mendaratkan pasukan-pasukan ABRI dan sukarelawan di berbagai tempat di Irian Barat. Antara lain Operasi Banteng di Fak-Fak dan Kaimana, Operasi Srigala di sekitar Sorong dan Teminabuan, Operasi Naga dengan sasaran Merauke, serta Operasi Jatayu di Sorong, Kaimana, dan Merauke. Pada tanggal 15 Agustus 1962 ditandatangani suatu perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda di New York, yang terkenal dengan Perjanjian New York. Adapun isi dari Perjanjian New York adalah sebagai berikut.
1)        Kekuasaan Belanda atas Irian Barat berakhir pada 1 Oktober 1962.
2)        Irian Barat berada di bawah PBB hingga 1 Mei 1963 melalui UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) yang dibentuk PBB.
3)        Pada 1 Mei 1963, Irian Barat akan diserahkan kepada pemerintah Indonesia.
4)        Pemerintah Indonesia wajib mengadakan penentuan pendapat rakyat (pepera) Irian Barat untuk menentukan akan berdiri sendiri atau tetap bergabung dengan Indonesia, pada tahun 1969 di bawah pengawasan PBB.
Berdasarkan hasil Pepera tahun 1969, Dewan Musyawarah Pepera secara aklamasi memutuskan bahwa Irian Barat tetap ingin bergabung dengan Indonesia. Hasil musyawarah pepera tersebut dilaporkan dalam Sidang Majelis

5.      Peristiwa G 30 S/PKI 1965
Peristiwa Gerakan 30 S/PKI terjadi pada malam tanggal 30 September 1965. Dalam peristiwa tersebut, sekelompok militer di bawah pimpinan Letkol Untung melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat serta memasukkan jenazah mereka ke dalam sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta. Setelah melakukan pembunuhan itu, kelompok tersebut menguasai dua sarana komunikasi penting, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI) di jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan.
Pada tanggal 1 Oktober 1965 pemimpin Gerakan 30 September Letnan Kolonel Untung mengumumkan melalui RRI Jakarta tentang gerakan yang telah dilakukannya. Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa Gerakan 30 September merupakan gerakan internal Angkatan Darat untuk menertibkan anggota Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintah Presiden Soekarno. Selain itu, diumumkan juga tentang pembentukan Dewan Revolusi, pendemisioneran Kabinet Dwikora, dan pemberlakuan pangkat letnan kolonel sebagai pangkat tertinggi dalam TNI. Pengumuman ini segera menyebar pada 1 Oktober 1965 dan menimbulkan kebingungan di masyarakat.

 
























Gambar Pahlawan Revolusi




Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) memutuskan segera mengambil alih pimpinan TNI Angkatan Darat karena Jenderal Ahmad Yani selaku Men/ Pangad saat itu belum diketahui keberadaannya. Setelah berhasil menghimpun pasukan yang masih setia kepada Pancasila, operasi penumpasan Gerakan 30 September pun segera dilakukan. Operasi penumpasan G 30 S/PKI dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto bersama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Batalyon 328/Para Divisi Siliwangi. Pada malam hari tanggal 1 Oktober 1965, RPKAD yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo mengumumkan melalui radio tentang keadaan yang sebenarnya kepada rakyat. Pada tanggal 2 Oktober 1965, RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo berhasil sepenuhnya menguasai keadaan di Jakarta dan pemberontakan G 30 S/PKI berhasil digagalkan.

B.       MATERI PENGAYAAN
Pelajarilah materi tentang kondisi politik Indonesia pada abad  21 dan bandingkan dengan Politik pada masa demokrasi terpimpin.









 










C.      EVALUASI
Isilah titik-titik dibawah ini dengan tepat !
  1. Alasan yang mendorong Indonesia keluar dari PBB adalah ....
  2. Pada tahun 1960, presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955 sebab ....
  3. Kubu bangsa yang kapitalis/imperialis dan bangsa-bangsa yang baru berkembang, tetapi cenderung memihak kapitalis/imperialis disebut ....
  4. Salah satu latar belakang munculnya demokrasi terpimpin adalah adanya kegagalan Konstituante dalam merumuskan ....
  5. Dalam upaya pembebasan Irian Barat, Indonesia menempuh jalur militer setelah mengumandangkan ....
  6. Penyimpangan kebijakan politik luar negeri yang pernah terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin adalah ....
  7. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 mempunyai arti penting bagi Republik Indonesia, yaitu ....
  8. Indonesia keluar sebagai anggota organisasi PBB pada tanggal ....
  9. Oldefos menurut konsep Presiden Soekarno adalah ....
  10. Organisasi massa di era Demokrasi Terpimpin yang memperjuangkan cita-cita proklamasi dan cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945 adalah ....
  11. Munculnya Dwikora dilatarbelakangi oleh ....
  12. Pernyataan yang paling tepat mengenai isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah ....
  13. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia menjalankan politik konfrontasi dengan Malaysia karena ....
  14. Setelah mengeluarkan dekrit, Presiden Soekarno membentuk DPAS yang bertugas ....
  15. Hubungan Indonesia dengan negara Barat pada masa Demokrasi Terpimpin semakin renggang dikarenakan ....
Jawaban
1.      diterimanya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB
2.      DPR menolak rancangan APBN yang diajukan presiden
3.      Oldefos
4.      UUD baru
5.      Trikora
6.      terbentuknya Poros Jakarta-Peking menunjukkan Indonesia memihak Blok Timur
7.      berfungsinya kembali UUD 1945 sebagai dasar idiil dan yuridis
8.      7 Januari 1965
9.      negara-negara imperialis Barat
10.  Front Nasional
11.  rasa kekhawatiran Soekarno terhadap berdirinya Federasi Malaysia
12.  pembubaran Konstituante dan pembentukan MPRS dan DPAS
13.  menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai neokolonialisme Inggris
14.  memberikan pertimbangan kepada presiden 
15.  negara-negara Barat bersikap pasif terhadap perjuangan pembebasan Irian Barat

D.      DAFTAR RUJUKAN
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku Siswa Mata Peajaran IPS. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
https://www.berbagaireviews.com/2018/06/konfrontasi-indonesia-dengan-malaysia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODUL PEMBELAJARAN 13

  MODUL PEMBELAJARAN 13 INTERAKSI SOSIAL POTENSI SUMBER DAYA ALAM DAN KEMARITIMAN     ...